Perempuan Sunda Dede Kurniasi Rawat Tradisi Kacapi Lewat Seni dan Pendidikan
![]() |
| Dede Kurniasi mengenalkan seni kacapi kepada generasi muda melalui pertunjukan dan pembelajaran di sekolah. (Dok. RRI Bandung) |
PEWARTA JABAR — Dede Kurniasi memilih kacapi sebagai jalan berkesenian sekaligus cara untuk menjaga tradisi Sunda tetap hidup di tengah perubahan zaman. Seniwati yang juga berprofesi sebagai guru itu aktif memainkan kacapi dan mengenalkannya kepada generasi muda.
Kisah tersebut disampaikan Dede dalam program Obrolan Budaya Berjaringan Korwil 12 Bandung, Bogor, dan Cirebon yang ditayangkan melalui kanal YouTube RRI Bandung, Minggu, 30 Agustus 2026.
Kecintaan Dede terhadap kacapi berawal dari lingkungan keluarga. Sejak kecil, telinganya akrab dengan suara kacapi suling dan dongeng tradisional Sunda yang biasa diperdengarkan sebelum tidur.
Ayahnya juga mampu memainkan kacapi sehingga alat musik tradisional tersebut semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari Dede.
“Dari keluarga juga sudah dibiasakan. Dulu sebelum tidur selalu disetel kacapi suling, jadi pendengaran kita sudah terbiasa terngiang-ngiang,” ujar Dede.
Ketertarikan itu berkembang ketika Dede bersekolah di SMKI. Di sana ia mendapat kesempatan mempelajari teknik permainan kacapi secara lebih serius sebagai bagian dari pendidikan seni karawitan.
Mematahkan anggapan perempuan bermain kacapi
Keputusan Dede menekuni kacapi sebagai perempuan sempat dianggap tidak lazim oleh sebagian masyarakat. Namun, dukungan keluarga dan apresiasi dari lingkungan membuatnya semakin mantap menjalani pilihan tersebut.
Dede bahkan melihat keunikan itu sebagai bagian dari identitas dirinya dalam berkesenian.
“Kalau perempuan bernyanyi, perempuan sebagai vokalis itu sudah biasa. Saya berpikir, saya orangnya tomboy, jadi saya ingin sesuatu yang unik dan tidak pernah tersentuh perempuan saya dalami,” katanya.
Saat melanjutkan pendidikan di STSI, Dede memperdalam kacapi tembang Sunda Cianjuran. Pengalaman tersebut membuatnya bersentuhan langsung dengan pakem tradisi, termasuk aturan mengenai sikap duduk dan teknik penjarian yang memiliki simbol serta filosofi tertentu.
Bagi Dede, perubahan zaman tidak semestinya menghilangkan nilai dasar kesenian tradisional. Ia berpandangan bahwa perempuan tetap dapat memainkan kacapi selama adab dan cara memainkannya tetap dijaga.
“Yang tidak boleh berubah itu cara kita memainkannya, adabnya tetap sama. Bedanya, saya yang memainkan, perempuan,” ujarnya.
Mengenalkan kacapi kepada siswa
Pelestarian kacapi kemudian Dede lanjutkan melalui pekerjaannya sebagai guru seni budaya di SMP Negeri 1 Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Ia mengajak siswa mengenal alat musik tersebut melalui praktik dan demonstrasi secara langsung.
Menurut Dede, pengenalan semacam itu penting karena masih ada anak-anak yang belum mengetahui kacapi sebagai bagian dari kekayaan seni budaya Sunda.
“Minimal diperkenalkan, ini kacapi, jumlah senarnya 20. Cara memainkannya tangan kanan disintreuk, tangan kiri ditoel,” tuturnya.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari siswa. Sebagian mulai tertarik mempelajari musik dan mencoba memadukan kacapi dengan instrumen modern.
Dede juga menciptakan lagu berjudul Karatagan SMP Negeri 1 Kutawaringin yang kemudian menjadi bagian dari identitas sekolah dan dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai alat musik.
Menurutnya, perpaduan musik tradisional dengan instrumen modern dapat membuka ruang kreativitas yang lebih luas tanpa menghilangkan karakter utama kesenian tradisional.
Perempuan muda semakin berani memainkan kacapi
Pengalaman Dede dalam berkolaborasi juga terjadi ketika ia masih menempuh pendidikan dan saat tampil di luar daerah. Ia pernah memadukan kacapi dengan alat musik lain yang memiliki karakter tangga nada berbeda.
Proses tersebut, menurutnya, membutuhkan latihan serta penyesuaian, tetapi menunjukkan bahwa musik tradisional dapat berdialog dengan bentuk musik lain ketika dimainkan dengan pemahaman yang tepat.
Dede juga melihat perubahan positif dari semakin banyak perempuan muda yang belajar memainkan kacapi. Media sosial dinilainya ikut membuka ruang bagi perempuan dan anak-anak untuk memperlihatkan kemampuan mereka.
“Sangat bersyukur dan sangat bangga. Ternyata sekarang banyak perempuan yang bisa main kacapi, bahkan dari SD sudah ada yang belajar,” katanya.
Dede berharap generasi muda, terutama perempuan, berani mendalami seni tradisional dan tidak menganggap kacapi sebagai kesenian yang ketinggalan zaman.
Ia juga mengingatkan para pelajar seni agar tidak berhenti mempelajari kacapi untuk kepentingan pendidikan, tetapi terus mengasah kemampuan dan membawanya ke tengah masyarakat.
“Kalau kita sudah mencintai satu jenis alat musik, terutama kacapi, jangan merasa malu, jangan merasa rendah diri. Tetap semangat berjuang,” ucap Dede.
Bagi Dede, minat terhadap tradisi dapat kembali tumbuh ketika masyarakat mulai jenuh dengan kehidupan modern dan mencari kembali akar budaya. Karena itu, keberlangsungan kacapi membutuhkan generasi yang bersedia mempelajari, memainkan, sekaligus mengembangkannya.
Kiprah Dede Kurniasi memperlihatkan bahwa perempuan dapat mengambil peran dalam menjaga seni tradisional Sunda melalui panggung pertunjukan maupun ruang pendidikan. Pengenalan langsung kepada anak-anak menjadi salah satu langkah sederhana untuk memastikan warisan budaya tersebut tetap memiliki penerus.

