Kader Senior Disebut Hengkang, Dinamika Internal Demokrat Jabar Jelang 2029 Disorot
![]() |
| Anton Sukartono Suratto kembali terpilih secara aklamasi dalam Musda VI Partai Demokrat Jawa Barat untuk periode 2026-2031. (Dok. Ist) |
PEWARTA JABAR — Dinamika internal Partai Demokrat Jawa Barat kembali menjadi perhatian setelah sejumlah kader senior disebut meninggalkan partai, sementara Anton Sukartono Suratto kembali terpilih memimpin DPD Demokrat Jabar untuk periode 2026-2031.
Dalam Musyawarah Daerah (Musda) VI Demokrat Jabar pada 24 Agustus 2026, Anton menjadi calon tunggal dan terpilih secara aklamasi dengan dukungan 27 DPC kabupaten/kota. Sebelumnya, seluruh ketua DPC dari 27 daerah mengantarkan Anton saat mendaftarkan diri sebagai calon ketua.
Di tengah dukungan formal tersebut, muncul pernyataan mengenai adanya kader-kader senior yang memilih keluar atau mengambil jalur politik berbeda. Persoalan tersebut kemudian dikaitkan dengan dinamika kepemimpinan, komunikasi internal, serta capaian elektoral Demokrat di Jawa Barat.
Kekecewaan kader disebut muncul setelah Musda
Eko, kader Demokrat yang pernah menjadi anggota DPRD, menyebut sebagian kader senior kecewa terhadap proses pemilihan Ketua DPD Demokrat Jawa Barat.
Menurut dia, terdapat harapan agar terjadi perubahan kepemimpinan di tingkat provinsi, tetapi Musda kembali menetapkan Anton sebagai figur yang memimpin partai.
“Kalau boleh disimpulkan, hal itu terkait kekecewaan mereka terhadap proses pemilihan Ketua DPD yang kembali menetapkan saudara Anton sebagai ketua,” kata Eko, belum lama ini.
Eko juga menghubungkan persoalan tersebut dengan perolehan kursi Demokrat dalam beberapa pemilu terakhir. Pada Pemilu 2024, Demokrat memperoleh delapan kursi DPRD Jawa Barat, sedangkan dari seluruh dapil Jawa Barat partai tersebut mendapatkan enam kursi DPR RI.
“Kalau hasilnya mengalami penurunan, tentu harus menjadi bahan evaluasi. Jangan sampai persoalan tersebut hanya dilihat sebagai angka, tanpa melihat apa yang terjadi di baliknya,” ujarnya.
Komunikasi internal ikut dipersoalkan
Selain capaian elektoral, Eko menyoroti pola komunikasi di dalam tubuh Demokrat Jabar yang menurut pandangannya menjadi salah satu sumber ketidaknyamanan sebagian kader.
Ia menyebut ada kader yang merasa ruang dialog semakin sempit dan hubungan internal partai lebih banyak dipengaruhi kedekatan dengan pimpinan.
“Anton sampai sekarang dinilai belum merangkul kader-kader yang berada di luar ring beliau. Padahal mereka adalah senior-senior yang sudah lama berkiprah di Demokrat,” bebernya.
Eko juga menyampaikan kritik terhadap gaya kepemimpinan Anton yang menurutnya bersifat konfrontatif.
“Ditambah sikap yang dianggap arogan, suka mencela pengurus lain dan senang menciptakan peta konflik dengan mereka yang tidak sejalan. Suasana seperti ini ikut menyebabkan DPD Demokrat menjadi sepi dan tidak nyaman,” kata Eko.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan Eko dan bukan kesimpulan independen mengenai kepemimpinan Demokrat Jawa Barat.
Sejumlah kader senior disebut meninggalkan partai
Dalam keterangannya, Eko menyebut beberapa nama yang menurutnya telah meninggalkan Demokrat atau memilih jalur politik berbeda.
Mereka antara lain Wawan Setiawan yang disebut pernah menjadi Sekretaris DPD dan anggota DPRD, Achdar yang pernah dua periode menjadi anggota DPRD Jawa Barat, Toto Purwanto yang juga mantan anggota DPRD Jawa Barat, Aceng Roni, Diene, serta Osin Permana yang disebut pernah dua periode menjadi anggota DPRD.
Eko menilai perpindahan kader yang telah lama memiliki basis politik dapat berpengaruh terhadap jaringan konstituen yang sebelumnya mereka bangun.
“Keberadaan kader yang telah lama berada di dalam rumah politik sebenarnya merupakan aset partai karena mereka punya konstituen yang sudah lama terbentuk. Ketika kader-kader ini pindah partai, konstituen yang selama ini dibangun juga berpotensi ikut berpindah. Itu menjadi kerugian bagi Demokrat,” ucapnya.
Target Pemilu 2029 menjadi tantangan berikutnya
Dinamika internal tersebut muncul ketika Demokrat mulai mempersiapkan diri menuju Pemilu 2029. Di Jawa Barat, Demokrat mencatat enam kursi DPR RI dan delapan kursi DPRD provinsi pada Pemilu 2024.
Bagi Eko, peningkatan suara dan kursi akan menjadi bagian penting dari posisi politik Demokrat ke depan. Ia juga mengaitkannya dengan kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di tingkat nasional.
“Pemilu 2029 jelas sangat berat. Demokrat yang dinakhodai Ketum AHY harus meningkatkan perolehan suara dan kursi di parlemen. Itu menjadi daya tawar kita nanti. Minimal masuk empat besar nasional,” lanjut Eko.
Target tersebut merupakan pandangan Eko, bukan posisi resmi hasil Pemilu 2029.
Dukungan Musda dan persoalan konsolidasi
Secara organisasi, Musda VI menunjukkan dukungan formal yang kuat terhadap Anton. Partai Demokrat Jabar menyebut Anton didukung 27 ketua DPC saat mendaftarkan diri dan kemudian ditetapkan secara aklamasi dalam Musda VI.
Namun, dukungan dalam forum resmi menjadi salah satu bagian dari dinamika yang kini berjalan bersamaan dengan munculnya kritik dari sebagian kader. Dua hal tersebut memperlihatkan adanya perbedaan antara proses formal organisasi dan pandangan sejumlah kader yang disampaikan di luar forum Musda.
Eko menekankan bahwa keberadaan kader di lapangan tetap penting dalam membangun basis suara partai.
“Di partai itu tidak ada atasan dan bawahan. Kita semua sama, hanya berbeda posisi saja. Kebersamaan dan kesolidan itu yang utama untuk bisa menang,” pungkasnya.
Dengan kepemimpinan Anton untuk periode 2026-2031 yang telah memperoleh mandat Musda, Demokrat Jawa Barat selanjutnya menghadapi agenda konsolidasi dan persiapan menuju Pemilu 2029. Sementara itu, kritik mengenai hubungan internal dan perpindahan sejumlah kader senior masih menjadi bagian dari dinamika yang disampaikan oleh pihak-pihak di dalam maupun sekitar partai.
